SELAMAT DATANG "WELCOME" SUGENG RAWUH
Ikutilah!!! Training dan Workshop Fikih Muamalah on Islamic Banking and Finance Level Intermediate /////// Training Notaris: Aspek Legal dan Kontrak-kontrak produk perbankan syariah 28-29 November 2012 //////// Training Hybrid Contracts pada Produk Perbankan dan Keuangan Syariah Tanggal 24 November 2012

Rabu, 12 November 2008

super member

Saya ingin membagi kisah ini kepada para Sahabat semua karena kebetulan pekerjaan saya berhubungan dengan kisah yang saya tulis ini. Saat ini saya bekerja di perusahaan sekuritas dengan tugas utama saya adalah training, development dan recruitment untuk penyediaan tenaga penjual. Seringkali para pelamar yang datang pada saat interview tidak tahu bahwa title untuk posisi yang kami tawarkan adalah untuk tenaga marketing - mungkin karena banyak dan bervariasinya title marketing di dunia investasi – sehingga pada saat interview kebanyakan dari mereka terkejut dan kemudian mengundurkan diri dengan alasan tidak tertarik untuk terjun di dunia kerja yang satu ini.

Tentu saja ini membuat saya heran karena dari sisi salary dan benefit lainnya lebih tinggi dari rata-rata back office, apalagi setelah mendengar alasan yang mereka kemukakan. Rata-rata mereka tidak tertarik karena mereka beranggapan kalau menjadi seorang salesman maka mereka harus siap untuk berkeliling door to door untuk menjajakan produk yang mereka jual, harus berpanas jikalau kemarau dan basah kuyup jikalau musim hujan seperti sekarang. Harus muka tebal dan tahan malu kalau ditolak pelanggan dengan kasar, harus menghiba-hiba dan mengemis agar mendapatkan belas kasihan dan yang paling parah harus menghalalkan segala cara untuk mencapai target.

Pandangan negatif mengenai pekerjaan marketing ini terus terang membuat saya sedih, pandangan ini bukan saja datang dari para pelamar senior tapi bahkan pelamar fresh graduate juga mempunyai pemikiran yang sama. Tetapi saya tidak bisa menyalahkan mereka karena mungkin pandangan itu terbentuk disebabkan ada segelintir penjual yang tidak profesional dalam menjalankan pekerjaannya.

Hanya saja seandainya mereka tahu, apabila ditekuni banyak sekali ilmu dan keahlian yang bisa didapatkan dari profesi marketing dan tentu saja karir yang tanpa batas. Banyak sekali orang sukses yang memulai karir mereka sebagai salesman dan salah satunya tentu saja Bapak Mario Teguh. Saya mengetahuinya setelah beliau menyampaikannya sendiri saat mengikut Workshop Effective Selling Skill di Mario Teguh Selling School.

Waktu itu beliau menanyakan kepada kami - peserta workshop - Apa batasan karir seorang salesman? Tidak ada satupun dari kami yang bisa menjawabnya, dan beliau berkata bahwa batasan karir seorang salesman adalah menjadi seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin harus bisa menjual, menjual ide-idenya, menjual konsepnya dan untuk bisa melakukan semua hal tersebut maka yang terutama adalah harus memiliki kepribadian yang menjual. Ada satu kalimat beliau yang membuat saya terkesan yaitu ’Selling Skill Without Selling Personality is Nothing’. Kita harus memiliki kepribadian yang menjual terlebih dahulu sebelum bisa menjual produk atau layanan kita.

Kalau begitu bukankah semuanya sudah jelas, bahwa kita semua adalah seorang penjual - walaupun tidak punya title itu di profesi kita – karena sebenarnya kita melakukan penjualan pada semua aspek kehidupan kita. Saat kita berbicara untuk menyampaikan ide atau suatu konsep kita sebenarnya menjual agar lawan lawan bicara menerima ide itu, saat anak kecil menangis untuk meminta sesuatu pada ayah atau ibunya, sebenarnya anak itu menjual rengekannya agar si ayah atau si ibu memenuhi permintaannya, saat seorang kyai sedang berkotbah di mesjid atau pendeta di gereja sebenarnya mereka menjual juga hanya saja produk yang mereka jual adalah ajaran kebajikan, keimanan, kearifan, imbalannya berupa pahala dari Yang Kuasa. Saat seorang pemain sinetron mempertontonkan keahlian aktingnya sebenarnya dia menjual keahliannya tersebut ke penonton.

Jadi intinya dunia penjualan tidak bisa kita pisahkan dari kehidupan kita dan untuk membuat agar ‘produk’ yang kita jual bisa laku dan ‘dibeli’ oleh konsumen tentu saja kita harus menjadi figur yang bisa mencerminkan kesuksesan produk tersebut dan itu dimulai dari kepribadian/ personality kita. Bapak Mario mengatakan, kita harus berkata santun dan menggunakan kata-kata yang tepat (bukan asal bicara), kita harus bersikap baik, harus jujur dan menjunjung integritas yang tinggi, harus tulus dalam melayani, harus memiliki empathy terhadap kesusahan orang lain, harus menjadi pendengar yang baik, dan masih banyak hal-hal baik lainnya yang intinya adalah harus menjadi seorang yang baik dan mulia agar bisa dipercaya oleh orang lain. Setelah mendengar hal di atas apakah kita masih berfikir bahwa menjadi salesman itu hina?

Sejak mulai terlibat di bisnis berbasis penjualan, saya menjadi aware dengan para tenaga penjual, kagum dengan perjuangan mereka dan terinspirasi oleh prestasi yang mereka capai, dan semakin terinspirasi mendengar kisah Pak Mario yang menurut saya patut dicontoh. Sejak itu bila ada seorang salesman yang datang atau telpon ke saya menawarkan suatu produk atau layanan apabila saya belum berminat untuk membelinya saya akan menolak dengan sangat sopan dan santun, sehalus dan seramah mungkin karena mereka sama seperti saya. Seorang SALESMAN juga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AGENDA

TRAINING Hybrid Contract pada Produk Perbankan Syariah, 18 Februari 2012