SELAMAT DATANG "WELCOME" SUGENG RAWUH
Ikutilah!!! Training dan Workshop Fikih Muamalah on Islamic Banking and Finance Level Intermediate /////// Training Notaris: Aspek Legal dan Kontrak-kontrak produk perbankan syariah 28-29 November 2012 //////// Training Hybrid Contracts pada Produk Perbankan dan Keuangan Syariah Tanggal 24 November 2012

Kamis, 09 Juli 2009

Golkar Bersiap Merapat ke Kabinet SBY-Boediono

Jumat, 10 Juli 2009 | 09:12


JAKARTA. Keputusan resmi pemenang pemilihan presiden baru keluar dua pekan lagi. Tapi, tanda-tanda kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono sudah diakui lawan politiknya. Partai Golkar yang mengusung Jusuf Kalla (JK) - Wiranto adalah salah satunya.

Bahkan, kendati bukan merupakan mitra koalisi pendukung SBY-Boediono, partai berlambang beringin ini sudah terang-terangan menyatakan minatnya bergabung dalam kabinet 2009-2014 di bawah SBY-Boediono. "Seandainya ditawarkan, pasti Golkar mau masuk kabinet. Peluangnya besar," kata Ketua Tim Kampanye Nasional JK-Wiranto, Fahmi Idris, Kamis (9/7).

Menteri Perindustrian ini mengakui, kendati jagoan yang digadang Golkar tersingkir dalam perolehan suara sementara, namun mereka tidak akan menjadi oposisi. Alasannya, partai yang sudah berusia 32 tahun lebih ini telah sejak lama menjadi partai berkuasa. "Golkar tidak berbakat jadi oposan," terangnya.

Fahmi bercerita, saat kalah dalam pemilu legislatif tahun 1999, ia pernah mengusulkan kepada Ketua Umum Golkar kala itu, Akbar Tandjung, untuk menjadi oposisi. Tapi, usulan itu tidak memperoleh tanggapan sama sekali.

Sikap Golkar ini tentu membuat nasib koalisi besar bakal kian suram. Sebab, koalisi yang digagas Golkar bersama PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Hanura, dan beberapa partai lain itu telah terpecah-belah. Perpecahan ini mulai tampak saat anggota koalisi besar tidak solid mendukung satu calon dalam pilpres. "Ada yang ke kanan dan dan ke kiri. Jadi, harap maklum koalisi itu tidak pernah permanen," urai Fahmi.

Fungsionaris PDI Perjuangan Ganjar Pranowo pun mengakui bahwa penggalangan koalisi besar makin buram. Anggota tim sukses pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto ini menegaskan bahwa PDI Perjuangan sudah siap ditinggalkan Golkar jika partai itu ingin merapat ke kabinet SBY-Boediono. "Dari dulu, kami sudah menjadi oposisi dan kami siap menjadi oposisi dengan siapa pun," tegas Ganjar.

Fahmi mengatakan, salah satu faktor kekalahan JK-Wiranto adalah akibat keterbatasan dana. Kendati JK punya kekayaan ratusan miliar rupiah, tapi partai pengusung JK-Wiranto dan tim sukses tidak solid dalam menggelontorkan dana. "Saya sering mengeluarkan uang pribadi," keluhnya.

Nah, anggaran JK-Wiranto yang cekak membuat banyak kegiatan operasional kampanye tidak berjalan lancar. Terlebih lagi, banyak kader Golkar yang justru menggembosi pasangan JK-Wiranto. Selain itu, mesin partai Golkar dan Hanura juga tidak berjalan dengan baik.

Yang menarik, setelah JK kalah, desakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Golkar semakin mencuat. Fahmi mengakui, banyak pihak dari internal Golkar ingin munaslub melengserkan JK sebagai ketua umum. Bahkan, sudah ada beberapa kandidat yang menyiapkan diri. "Yang berhasrat benar itu Aburizal Bakrie dan Surya Paloh," ungkap Fahmi.

Sebenarnya, wacana Munaslub Golkar bukanlah barang baru. Isu ini sempat mencuat saat sejumlah kader menghendaki JK berduet dengan SBY setelah kekalahan partai ini di pemilu legislatif.

Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng enggan berkomentar soal hasrat Partai Golkar bergabung dengan kabinet SBY-Boediono. Anggota tim sukses pasangan ini menyatakan bahwa pembicaraan soal kabinet masih terlalu dini. "Pak SBY punya waktu yang tepat untuk bicara soal kabinet," katanya singkat.



Yohan Rubiyantoro, Hans Henricus KONTAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AGENDA

TRAINING Hybrid Contract pada Produk Perbankan Syariah, 18 Februari 2012