Jumat, 10 Juli 2009 | 03:00 WIB
Jakarta, Kompas -
Investor pasar modal sama sekali belum merespons dengan memborong saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin hanya naik tipis 0,72 poin atau 0,03 persen menjadi 2.083,97, Indeks LQ-45 hanya meningkat 0,07 poin atau 0,02 persen ke level 406,11 dan Indeks Kompas100 hanya menguat 0,77 poin atau 0,15 persen ke level 506,7.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kemarin hanya menguat tipis. Kurs tengah BI mencatat nilai tukar rupiah Rp 10.200 per dollar AS atau hanya menguat Rp 40 dibandingkan dengan posisi Rp 10.240 per dollar AS pada hari Rabu.
Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, minimnya minat beli investor pascapilpres ini dipengaruhi keseragaman pikiran pelaku pasar yang memperkirakan indeks akan melambung. ”Kalau semua orang berpikir indeks melesat dan siap-siap jual di harga tinggi, lantas siapa yang mau beli di harga tinggi?” kata Poltak.
Selain karena keseragaman perkiraan itu, Poltak mengatakan, indeks saham dalam negeri sulit naik signifikan karena harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia saat ini dinilai sebagian kalangan sudah terlalu mahal berdasarkan valuasi fundamental. Hal itu ditunjukkan dari PER atau rasio harga dan laba per saham IHSG yang telah mencapai 27 kali, salah satu yang tertinggi di Asia.
Head of Asset Management Paramitra Alfa Securities Ukie Jaya Mahendra mengatakan, investor belum memberikan respons positif atas sukses pilpres karena di sisi lain terdapat sejumlah sentimen negatif yang berkembang di bursa dunia, antara lain munculnya ketidakpastian baru terhadap pemulihan ekonomi global dan penurunan harga komoditas.
Soal penguatan nilai rupiah, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Miranda S Goeltom seusai acara peluncuran uang kertas pecahan Rp 2.000 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menegaskan, pilpres yang berlangsung aman mengurangi ketidakpastian atau keragu-raguan pelaku pasar. Kondisi ini akan semakin mendorong penguatan rupiah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seusai memimpin rapat koordinasi bidang perekonomian dan kesejahteraan rakyat di Kantor Presiden, Kamis, menegaskan, setelah pilpres, pemerintah kembali berkonsolidasi menghadapi krisis global yang belum berakhir. Kestabilan politik dan makroekonomi akan mendorong investasi segera mengalir masuk. ”Saya optimistis investasi akan bergerak lebih cepat,” ujar Presiden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar