Senin, 13/07/2009 10:06 WIB
Sri Mulyani Tetap Jadi Menkeu untuk Jaga Kepercayaan Investor
Alih Istik Wahyuni - detikFinance
Sri Mulyani Tetap Jadi Menkeu untuk Jaga Kepercayaan Investor
Alih Istik Wahyuni - detikFinance

Foto: dok Detikcom
Jakarta - SBY kemungkinan besar akan mempertahankan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan di kabinet barunya nanti. Pilihan SBY untuk Menkeu yang tetap dijatuhkan ke Sri Mulyani ini dinilai demi menjaga kepercayaan investor dan kreditor asing terhadap Indonesia.
Menurut pengamat ekonomi Dradjad Wibowo, sepak terjang Sri Mulyani memang sudah dikenal di mancanegara, termasuk oleh badan-badan keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
"Kalau untuk menjadi Menteri Keuangan, ada setumpuk ekonom dan pelaku usaha yang mampu. Tapi menurut saya, Sri Mulyani dipilih lebih karena faktor kepercayaan luar, yaitu kreditor dan investor asing. Tapi itu kan terserah Presidennya nanti," katanya ketika dihubungi detikFinance, Senin (13/7/2009).
Ia menambahkan, siapapun yang dipilih Presiden terpilih nanti untuk menjadi Menteri Keuangan, akan mencerminkan visi dan misi ekonomi pemerintahan 5 tahun ke depan.
"Apakah ekonomi Indonesia akan dibuka untuk dominasi asing atau diseimbangkan dengan ekonomi domestik, itu akan terlihat," ujar anggota DPR dari FPAN ini.
Sebelumnya sumber detikcom menyebutkan bahwa Sri Mulyani akan dipertahankan sebagai Menteri Keuangan, meskipun sebelumnya wanita kelahiran Semarang ini sudah dicalonkan sebagai Gubernur BI meski belum secara resmi. Posisi Gubernur BI yang sekarang masih kosong setelah ditinggalkan Boediono diperkirakan akan diisi oleh Darmin Nasution.
Menanggapi hal ini, Drajad mengatakan, secara kemampuan Darmin memang layak menjadi Gubernur Bank Indonesia.
"Kalau misalkan Darmin Nasution orangnya sangat capable jadi Gubernur BI. Walau belum pernah memimpin moneter, tapi dia sudah jadi Dirjen yang terkait keuangan juga," katanya.
Hanya saja ia mengaskan, jika Darmin akan dicalonkan jadi Gubernur BI, maka jangan diangkat jadi Deputi Gubernur Senior (DGS) BI dulu. Sebaiknya Darmin langsung dicalonkan dan kemudian diangkat jadi Gubernur BI. Hal ini terkait aturan yang menetapkan penggantian anggota Dewan Gubernur BI hanya boleh dilakukan 2 kali dalam setahun.
"Kalau Darmin diangkat jadi DGS BI dulu, lalu diangkat lagi jadi Gubernur BI, maka sudah 2 kali pengangkatan. Padahal itu berarti posisi DGS BI masih kosong dan perlu pengangkatan lagi. Jadi sebaiknya Darmin dicalonkan dan diangkat jadi Gubernur BI sekaligus Presiden mengajukan calon baru untuk DGS BI. Jadi hanya dua kali pengangkatan," tambahnya.
(lih/qom)
Menurut pengamat ekonomi Dradjad Wibowo, sepak terjang Sri Mulyani memang sudah dikenal di mancanegara, termasuk oleh badan-badan keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
"Kalau untuk menjadi Menteri Keuangan, ada setumpuk ekonom dan pelaku usaha yang mampu. Tapi menurut saya, Sri Mulyani dipilih lebih karena faktor kepercayaan luar, yaitu kreditor dan investor asing. Tapi itu kan terserah Presidennya nanti," katanya ketika dihubungi detikFinance, Senin (13/7/2009).
Ia menambahkan, siapapun yang dipilih Presiden terpilih nanti untuk menjadi Menteri Keuangan, akan mencerminkan visi dan misi ekonomi pemerintahan 5 tahun ke depan.
"Apakah ekonomi Indonesia akan dibuka untuk dominasi asing atau diseimbangkan dengan ekonomi domestik, itu akan terlihat," ujar anggota DPR dari FPAN ini.
Sebelumnya sumber detikcom menyebutkan bahwa Sri Mulyani akan dipertahankan sebagai Menteri Keuangan, meskipun sebelumnya wanita kelahiran Semarang ini sudah dicalonkan sebagai Gubernur BI meski belum secara resmi. Posisi Gubernur BI yang sekarang masih kosong setelah ditinggalkan Boediono diperkirakan akan diisi oleh Darmin Nasution.
Menanggapi hal ini, Drajad mengatakan, secara kemampuan Darmin memang layak menjadi Gubernur Bank Indonesia.
"Kalau misalkan Darmin Nasution orangnya sangat capable jadi Gubernur BI. Walau belum pernah memimpin moneter, tapi dia sudah jadi Dirjen yang terkait keuangan juga," katanya.
Hanya saja ia mengaskan, jika Darmin akan dicalonkan jadi Gubernur BI, maka jangan diangkat jadi Deputi Gubernur Senior (DGS) BI dulu. Sebaiknya Darmin langsung dicalonkan dan kemudian diangkat jadi Gubernur BI. Hal ini terkait aturan yang menetapkan penggantian anggota Dewan Gubernur BI hanya boleh dilakukan 2 kali dalam setahun.
"Kalau Darmin diangkat jadi DGS BI dulu, lalu diangkat lagi jadi Gubernur BI, maka sudah 2 kali pengangkatan. Padahal itu berarti posisi DGS BI masih kosong dan perlu pengangkatan lagi. Jadi sebaiknya Darmin dicalonkan dan diangkat jadi Gubernur BI sekaligus Presiden mengajukan calon baru untuk DGS BI. Jadi hanya dua kali pengangkatan," tambahnya.
(lih/qom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar