Kamis, 08 Oktober 2009 pukul 01:14:00
ISTANBUL -- Potensi perbankan syariah di Maladewa mendorong Islamic Cooperation for the Development of the Private Sector (ICD) untuk menjalin kesepakatan dengan pemerintah setempat. Kerja sama tersebut meliputi pembentukan bank syariah pertama di Maladewa.
Penandatanganan kerja sama dilakukan saat rapat tahunan World Bank Group/International Monetary Fund berlangsung di Istanbul, Turki. ''Kerja sama ini sangat penting bagi pemerintah Maladewa terutama kontribusinya bagi perkembangan nasional,'' kata Menteri Keuangan Maladewa, Ali Hashim, seperti dimuat Zawya, Selasa (6/10).
CEO dan General Manager ICD, Khaled Al-Aboodi, mengatakan jalinan kerja sama tersebut akan semakin memperkuat hubungan ICD dengan negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI). ''Saya yakin terbentuknya bank syariah negara pertama, Maldives Islamic Bank, akan mendorong pertumbuhan ekonomi Maladewa,'' kata Al Aboodi.
ICD adalah anak perusahaan Islamic Development Bank yang dibentuk oleh negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 negara. Sebelumnya ICD juga telah menjalin kesepakatan dengan BNI untuk turut serta mengembangkan industri perbankan syariah Indonesia. gie
Yang Syariah Kian Dipercaya
Keinginan masyarakat untuk memanfaatkan industri perbankan dengan prinsip syariah memang terus meningkat. Hal ini terlihat antara lain kian banyak masyarakat yang memilih untuk menyimpan dan menginvestasikan uangnnya di bank. Ini terlihat dari kian meningkatnya jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) seperti pada grafik perkembangan 2007-2009. Meski harus diakui, jika dibandingkan dengan industri perbankan secara keseluruhan, yang syariah masih harus mengejar ketertinggalannya.
DPK Perbankan
(dalam triliun)
2007 2008 2009
DPK Industri Perbankan 1.510,85 1.753,29 1.823,81
DPK Perbankan Syariah 28,01 36,85 42,10
Pangsa (%) 1,85 1,10 2,31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar