mohon tips dan trik mendapatkan surat rekomendasi
>> Namun, sampai dengan saat ini beliau tidak juga mengisi form
(tergeletak begitu saja di meja kantornya) sedangkan deadline beasiswa
semakin dekat.
Sebaiknya Indah mengingatkan lagi beliau. Mungkin beliau lupa?
Tentunya mengingatkan secara baik-baik, siapa tahu beliau juga sedang
kesulitan memikirkan kata-kata yang tepat untuk surat rekomendasi. Di
Indonesia bukan hal yang aneh kalau pada akhirnya mahasiswa sendiri
yang menuliskan surat rekomendasi tersebut untuk "tinggal" dilihat
sekilas oleh pemberi rekomendasi dan langsung ditandatangan! Ini tetap
sah, asalkan ditandatangan langsung oleh beliau. Lebih bagus lagi
kalau tanda-tangan beliau dicap resmi berdasarkan institusi tempat
beliau bekerja, maupun menggunakan surat berkop resmi sesuai dengan
institusi beliau.
>> Dan saya tidak bisa minta tolong kepada dosen saya yang dulu karena
jurusan yg akan saya ambil berbeda dengan spesialisasinya..
Loh, jangan pesimis dulu. Perlu Indah ketahui, lintas jurusan untuk
kuliah pasca sarjana adalah hal yang sangat umum di seluruh dunia.
Jadi, Indah bukanlah yang pertama maupun yang terakhir dalam
berkeinginan untuk pindah jurusan. Dalam surat rekomendasi itu, TIDAK
HARUS dari dosen yang benar-benar sama dengan spesialisasi jurusan
yang akan diambil. Indah bisa memohon pada sang dosen agar menuliskan
hal-hal yang universal dari prestasi akademik Indah selama diajar dan
berinteraksi dengan dosen tersebut. Malahan sama sekali tidak relevan
mempertanyakan bidang studi dosen untuk studi lanjut Indah.
Oh ya, rekomendasi yang isinya hanya kuantitatif (menjabarkan nilai
Indah yang didapat selama kuliah) tidak ada artinya karena hanya
mengutip transkrip Indah. Sebaiknya Indah berpikir seperti ini:
rekomendasi itu sebenarnya meminta seseorang menilai akademik Indah
secara KUALITATIF, dan BUKAN KUANTITATIF (hal ini berlaku juga dalam
penulisan essay Personal Statement atau Statement of Purpose).
Hal-hal kuantitatif dalam lamaran pasca-sarjana antara lain: transkrip
akademik, nilai IELTS, nilai TOEFL, nilai GRE, nilai GMAT, dsb.
Sedangkan hal-hal kualitatif diberikan oleh: surat rekomendasi,
personal statement, research statement, motivation letter, statement
of purpose, dsb. Jadi, segala hal yang sudah dijabarkan secara
kuantitatif tidaklah perlu dijabarkan lagi dalam aspek yang
kualitatif. Justru aspek kualitatif dalam pelamaran harus dimanfaatkan
untuk melengkapi segala hal yang TIDAK DAPAT dijabarkan secara
kuantitatif oleh angka belaka.
Maksud Franklin begini: terlepas dari berapa nilai yang diraih Indah
ketika diajar sang dosen, apakah selama diajar dosen tersebut Indah
aktif bertanya di kelas? Terampil berargumentasi? Berani adu argumen
kepada dosen dan sesama mahasiswa? Lancar berkomunikasi bahasa Inggris
dalam konteks akademik? Bisa berpikir outside the box? Aktif
mendiskusikan materi kuliah di luar jam pelajaran? Punya ide-ide segar
dalam mengerjakan proyek dari dosen dan bersedia
mengimplementasikannya? Bisa diandalkan ketika dipercaya dosen
mengarahkan teman-teman mahasiswa/mengerjakan tugas? Dsb....
Jika rekomendasi tersebut bisa menjabarkan hal-hal seperti yang
dijabarkan Franklin di atas, itulah surat rekomendasi yang bermutu
tinggi dan sangat diperhitungkan oleh panitia penerima mahasiswa baru
(sedikit banyak Franklin pernah membantu penerimaan mahasiswa baru,
jadi ini berdasarkan pengalaman pribadi).
OK? Selamat berjuang Indah! Franklin pribadi juga sedang mempersiapkan
diri sebaik-baiknya untuk kuliah lanjut. Marilah kita sama-sama
berjuang sesuai dengan impian masing-masing.
salam,
Franklin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar